UNESA: Pelatihan Guru Inklusif di Bojonegoro Jadi Contoh Praktik Baik Pendidikan Setara
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menegaskan komitmennya terhadap pendidikan yang setara dan inklusif melalui pelatihan guru di SD Kita Bojonegoro. Kegiatan ini dilaksanakan dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Mengembangkan Kesetaraan: Workshop Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Inklusif di Sekolah.
Ketua pelaksana kegiatan, Ima Kurrotun Ainin, menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi wujud nyata upaya UNESA dalam menciptakan ruang belajar yang adil bagi semua anak, termasuk peserta didik penyandang disabilitas. Ia didampingi oleh tiga dosen berpengalaman, yakni Prof. Budi Baskoro, Prof. Sujarwanto, Muhammad Nurul Ashar, M.Ed., serta Prof. Wagino.
“Pendidikan inklusif bukan hanya membuka akses, tetapi juga membangun sistem yang benar-benar menghargai perbedaan. Walaupun pelaksanaan on-site berlangsung pada 12–13 Februari 2024 dan dilanjutkan dengan kegiatan online melalui Zoom hingga Juli 2024, kami tetap menjaga komunikasi. Terlebih ketika ada kegiatan lain yang berkaitan dengan inklusi, kami selalu siap berbagi pengalaman,” ujar Ima, Rabu (11/5/2025).
SD Kita Bojonegoro dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki jumlah peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang lebih banyak dibandingkan siswa reguler, sehingga menjadi representatif untuk praktik pendidikan inklusif di tingkat dasar. Kegiatan ini turut melibatkan Forum Silaturahmi Pendidikan Inklusif Bojonegoro, dengan peserta dari kalangan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta para guru yang aktif menangani siswa PDBK.
Hari pertama pelatihan difokuskan pada pemahaman dasar pendidikan inklusif serta pengenalan karakteristik belajar siswa PDBK. Hari kedua diisi dengan praktik identifikasi, asesmen, adaptasi kurikulum, penggunaan teknologi asistif, hingga penyusunan modul ajar berdiferensiasi yang dirancang untuk menjangkau seluruh siswa tanpa kecuali.
Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para peserta. Ustadzah Eni, Kepala MI Islam Terpadu Permata, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan pelatihan inklusif pertama yang diikuti oleh lembaganya. “Kami sangat terbantu dan berharap kegiatan seperti ini bisa diadakan kembali,” ujarnya.
Puring Ardina, Kepala SD Kita Bojonegoro, menilai bahwa PKM ini sangat aplikatif dan tepat sasaran terhadap kebutuhan guru. “Kegiatan PKM ini sangat fruitful atau bermanfaat. Para narasumber menyampaikan materi secara aplikatif dan benar-benar menyentuh kebutuhan guru dalam mengelola kelas yang beragam,” ungkapnya.
UNESA berharap praktik pelatihan ini dapat menjadi contoh baik (best practice) dalam memperluas implementasi pendidikan inklusif di seluruh wilayah Indonesia