Hari Pendidikan Internasional: Merayakan Keberagaman dalam Pendidikan
Dunia
memperingati Hari Pendidikan Internasional sebagai momentum penting untuk
menegaskan kembali komitmen global terhadap pendidikan yang inklusif, setara,
dan berkualitas bagi semua. Di Indonesia, peringatan ini menjadi pengingat
bahwa keberagaman—baik dalam budaya, agama, kemampuan, maupun latar
sosial—adalah kekuatan yang perlu dirayakan dan dikelola dengan bijak di dunia
pendidikan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) mengusung tema nasional “Merayakan Keberagaman,
Menguatkan Pendidikan untuk Semua.” Tema ini selaras dengan seruan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana
membangun perdamaian, solidaritas, dan kemanusiaan di tengah tantangan dunia
modern.
Hari
Pendidikan Internasional pertama kali diperingati oleh UNESCO pada tahun 2019,
sebagai bentuk pengakuan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia dan
pondasi utama pembangunan berkelanjutan. Tahun ini, Indonesia memperingatinya
dengan berbagai kegiatan, mulai dari seminar nasional, pameran karya siswa,
hingga kampanye pendidikan inklusif di berbagai daerah. Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dalam sambutannya di acara puncak peringatan
di Jakarta, menegaskan bahwa keberagaman dalam pendidikan harus menjadi sumber
kekuatan, bukan hambatan. “Sekolah seharusnya menjadi ruang di mana setiap
anak, tanpa memandang latar belakang, dapat belajar dan tumbuh bersama. Di
situlah nilai-nilai toleransi, empati, dan saling menghormati mulai dibangun,”
ujarnya.
Menurutnya,
pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak peserta didik yang cerdas secara
akademik, tetapi juga membentuk manusia yang menghargai perbedaan dan siap
hidup berdampingan dalam masyarakat yang plural. Dalam konteks Indonesia yang
multikultural, semangat ini menjadi semakin relevan. Indonesia dikenal sebagai
negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi—baik dari segi suku, agama,
bahasa, maupun budaya. Dalam dunia pendidikan, keberagaman tersebut menjadi
tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat karakter bangsa.
Penerapan
pendidikan inklusi merupakan salah satu bentuk nyata dari upaya pemerintah
dalam merayakan keberagaman di sekolah. Melalui kebijakan ini, anak-anak dengan
kebutuhan khusus, anak dari kelompok minoritas, dan anak di daerah terpencil
mendapat kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di sekolah reguler. Direktur
Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kemendikbudristek menyebutkan,
keberagaman dalam pendidikan dapat memperkaya proses belajar. “Ketika anak-anak
dari latar belakang berbeda belajar bersama, mereka belajar untuk saling
memahami dan bekerja sama. Itulah pendidikan yang sejati,” ujarnya.
Selain
itu, keberagaman budaya lokal juga mulai diintegrasikan dalam kurikulum Merdeka
Belajar. Sekolah diberikan kebebasan untuk mengembangkan pembelajaran
kontekstual sesuai dengan nilai dan tradisi daerah masing-masing. Langkah ini
dinilai mampu memperkuat identitas nasional sekaligus menumbuhkan rasa bangga
terhadap budaya sendiri. Peringatan Hari Pendidikan Internasional juga menjadi
refleksi terhadap tantangan ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi. Di
sejumlah wilayah, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal),
sebagian anak masih kesulitan mengakses sekolah karena keterbatasan
infrastruktur dan ekonomi keluarga.
Pemerintah
terus berupaya memperluas pemerataan pendidikan melalui berbagai program,
seperti Sekolah Penggerak, Program Indonesia Pintar (PIP), serta Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) yang kini diarahkan untuk mendukung kegiatan belajar
yang lebih inklusif. “Pendidikan adalah
hak setiap anak, bukan hak sebagian anak. Karena itu, negara hadir memastikan
tidak ada yang tertinggal,” kata Menteri Pendidikan dalam kesempatan yang sama.
Selain program pemerintah, berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat
turut berperan aktif dalam membuka akses pendidikan. Misalnya, program literasi
berbasis masyarakat di Papua dan Nusa Tenggara yang membantu anak-anak belajar
membaca dan menulis dalam dua bahasa—bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
Langkah-langkah
tersebut membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan
masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan pendidikan untuk semua. Dalam
konteks global, dunia pendidikan kini menghadapi tantangan baru. Disrupsi
teknologi, perubahan iklim, serta meningkatnya intoleransi sosial menjadi isu
penting yang memengaruhi cara manusia belajar dan berinteraksi. Karena itu,
pendidikan perlu terus beradaptasi agar dapat membentuk generasi yang tangguh
dan berwawasan global tanpa kehilangan akar budaya.
UNESCO
dalam pernyataannya menyebutkan bahwa keberagaman di ruang kelas harus dilihat
sebagai kesempatan untuk memperkuat solidaritas dan kemanusiaan. Pendidikan
yang menghormati perbedaan adalah kunci untuk mencegah konflik dan membangun
masyarakat damai. Di Indonesia, semangat ini diterjemahkan dalam berbagai
inisiatif pendidikan karakter dan moderasi beragama di sekolah. Melalui
kegiatan lintas budaya, siswa diajak memahami nilai toleransi dan kerja sama.
Guru pun didorong untuk menjadi fasilitator yang mengajarkan keberagaman
melalui contoh nyata, bukan sekadar teori.
Peringatan
Hari Pendidikan Internasional tahun ini menjadi momentum penting untuk
memperkuat komitmen semua pihak dalam menciptakan sistem pendidikan yang
inklusif dan berkeadilan. Dengan semangat Merdeka Belajar, pemerintah berharap
setiap anak dapat belajar sesuai potensinya tanpa dibatasi latar belakang
sosial, budaya, atau kemampuan. “Keberagaman bukanlah alasan untuk terpisah,
melainkan alasan untuk bersatu,” ujar Menteri Pendidikan menutup sambutannya.
“Melalui pendidikan, kita belajar melihat perbedaan bukan sebagai jurang,
tetapi sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih baik.”
Hari
Pendidikan Internasional menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya urusan
sekolah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Merayakan
keberagaman dalam pendidikan berarti menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang
akan menjadi fondasi Indonesia Emas 2045—bangsa yang cerdas, inklusif, dan
berdaya saing global.